Dia
sedang dipayungi awan-awan cinta. Setiap hari yang ada di pikirannya hanyalah seorang gadis
yang sering dipanggilnya bidadari disekolahnya Dalam
benaknya
tiada yang lain selain bidadarinya itu. Pagi siang
sore malam pun yang seharusnya memikirkan hal yang lain, dia digunakan untuk memikirkan dan membayangkan
sang pujaan hatinya,
bidadari hatinya.
Entahlah, tak ada yang tahu mengapa dia seperti tu setiap hari?
Hanya
dia sendiri yang
tahu semuanya.
Hari demi hari dilaluinya dengan hal-hal yang sama. Sesekali dia melewati kelas sang bidadari hanya untuk sekedar
menengok dan bertanya kepada teman-temanya. “Eh Bidadari mana ?”. “Berangkat nggak dia
?”. “Dia sehatkan ?” setelah merasa puas saat menengok dan bertanya, maka dia akan segera pergi dari
kelas agar perhatian yang dia berikan kepada sang pujaan hati tak diketahui.
Suatu
ketika dia bertemu
dengan sang bidadari saat ada acara di sekolah mereka. Tanpa basa-basi bertanya kepada
sang pujaan hati .
“Gimana kabarmu? Sehatkan/”
”Ya lumayan lah
!”sahutnya tanpa memandang sedikitpun.
“Lho , kok
lumayan ? emang nya baru sakit ya ?”tanya nya lagi dengan sebuah senyum.
”Menurut mu ?” jawab nya dengan
sangat dingin.
Mendengar
jawaban tersebut dia
lalu bertanya dalam hatinya.
“Mengapa dia
menjawab pertanyaan ku dengan cara seperti itu? Apakah mungkin ada yang
salah dengan semua pertanyaan ku ? Ataukah mungkin dia sama sekali tak ingin
ku perhatikan ?”.
Setelah percakapan yang singkat itu tak
satu pun kata yang keluar dari mulutnya maupun
si bidadari.
Keesokan
harinya dia mencoba bertanya kepada seorang teman baiknya
yang kebetulan juga menjadi teman baik si bidadari.
“Siang
plend! lagi ngapain kau ?” tanyanya
sambil mengangkat tangan nya.
“Siang
juga, nie lagi santai-santai aja, ada apa?”sahutnya
dengan penuh senyum.
“Enggak, bukan masalah serius kok, aku mau tanya aja. Emang
sebenarnya
ada apa sih sama Bidadari?”sambil
melihat si bidadari .
“Wah,
gag tahu aku. emang belakangan ini dia aneh banget, jadi
pemarah!”.
“Pantesan ! Kemaren cuman aku tanya
sedikit aja dia udah sewot banget. Kemarin semua kata-katanya dingin”. Tuturnya sambil memperagakan perkataannya.
“Ya
udah mendingan untuk beberapa hari
ini gag usah diganggu dulu aja.” kata sahabatnya sambil menuding
si bidadari.
Setelah
percakapan itu pula tak
berkata apa-apa kepada si bidadari, begitu pula sebaliknya. Hari demi hari, minggu demi minggu tak ada percakapan
diantara mereka. Semua jadi dingin.
Sindirlah Hati Ini !
Di
hari yang berbeda di suasana hati yang berbeda, diapun merasakan ada yang
berbeda. Berbeda
pada isi pikiran, hati,
dan bahkan hidupnya. Dia merasa seperti sebagian anggota badannya ada yang menghilang. Dia merasa tak lengkap, tak sempurna. Namun dia juga
tidak tahu bagian mana yang hilang, apa sebenarnya yang telah hilang dari
dirinya.
Berulang kali dia
mencoba mengirim SMS pada bidadaruinya,
saying, tidak ada respon sama sekali. Dia bingung, apa yang telah terjadai dengan
bidadarinya. Mengapa bidadari tak mau biocara padanya. Dia merasakan sebuah
kehampaan. Hampa dan sunyi. Dia
terus menerus kembali memikirkan si bidadari sama seperti dulu . Di tengah rasa sunyi dan hampa yang
menjadi-jadi, dia mencoba berkirim SMS pada sahabatnya . bertanya tentang
kabar bidadari.
“Hai
plend ! tolong bantun aku dong, gimana kabar bidadari?”
“Hai
juga plend. Apa yang bias kubantu?”
“Kamu sering bicara sama bidadari gag? Beberapa hari ini dia dingin banget.”
“ Aku juga gag tau sih apa
yang terjadi sama Dia , tapi kayak nya dia baru serius banget sama pelajaran .”
“Jujur
aja ya, aku kangeeen banget sama dia, terutama sama semua
sindiran nya“.
“Ouwh , kangen ya nih
critanya !” .
Malam
itu dia merasakan sepi dihatinya, dia tak dapat menyebunyikan keinginannya. Dia rindu sindiran-sindiran atau perhatian-perhatian
yang keluar dari mulut si bidadari yang dulu sering diucapkan bidadari
padanya sebagai tanda saling menyayangi dan
mengasihi saat mereka bersama.
***
Mengapa Harus Seperti Ini?
Hari
yang berlanjut, dia terpasung dalam kesemdirian. Akhirnya dia tak tahan, diberanikan
dirinya menghampiri
kelas si bidadari untuk mencari tahu tentang keadaan dan kabar si
bidadari secara
sembunyi-sembunyi. Ternyata bidadari tahu,
lalu tanpa basa basi bidadari pun
langsung menunjukkan
ekspresi marahnya.
“Tunggu sebentar ! aku ingin bertanya sesuatu
kepada mu !” katanya dengan nada yang tinggi.
“Apa ?” jawab bidadari singkat.
“Sebenarnya apa
yang kau pikirkan tentang ku ? Apakah
kesalahanku sehingga kau sekarang
menjadi seperti ini kepada
ku ?”
“Gag ada ! bukan urusan mu !”
jawabnya dengan keras
dan kasar.
“Baiklah, jika
memang tak ada,
tak apa aku takkan membahasnya kembali denganmu. Tetapi jika selama ini
aku ada kesalahan, aku minta maaf dan semoga kau mau memaafkan itu .” katanya dengan hati dan perkataan
yang tulus dari lubuk hati. Dan si bidadari pun sama sekali tak membalas dengan
sepatah katapun, dan bahkan langsung pergi
meninggalkannya.
Waktu
beribadah pun telah Selesai,
tetapi dia belum mengakhiri do’a
nya. Dia masih berlutut
dengan menengadahkan tangan kepada penciptanya dan ber do’a kepada Nya !
“Ya
Allah apakah yang sebenarnya terjadi antara aku dan dia? Apakah sebuah kebaikan
atau sebuah seburukan ya Allah ? Jika
sebuah kebaikan aku memohon kepada mu ya Allah, tolong jaga
kebaikan tersebut agar bisa selamanya terjadi. tetapi jika sebuah keburukan
yang terjadi, aku memohon kepada mu ya Allah. tolong perbaikilah keburukan
tersebut agar kami bisa menjadi satu seperti dahulu kala ya Allah ! karena aku
sangat tidak bisa ya Allah jika harus berpecah belah dari nya ya .” Air matanya menetes deras, membasahi seluruh muka dan
telapak tangannya.
Dalam renungan hatinya
berkata ,”Hai bidadari ku, andai saja kita mau, sebenarnya kita bisa bersikap
lebih baik dari ini tetapi mengapa kau sama sekali tidak pernah mau
mendengarkan ku saat aku sedang berbicara denganmu? jujur ku ingin katakan
padamu, aku ingin sekali kita bisa berbaik kembali seperti saat kita saling
berbuat baik saat dulu.“
***
Jangan Pergi
Diapun
tak berhenti untuk memikirkan kenangan-kenangan indah saat mereka bersama. Dia
sudah mulai berhenti
untuk memperhatikan si bidadari karena sifat dan sikap nya yang telah berubah. Sedikit
demi sedikit dia berlatih untuk melupakan si bidadari dari
benahknya.
Berusaha untuk
memikirkan hal-hal lain yang lebih bermanfaat baginya selain si bidadari .
Di
hari-hari berikutnya, mulai terlihat kemajuan dari dirinya. Nilai-nilainya
meningkat pesat. Kemajuan
yang dialaminya ini telah
membuatnya kembali memikirkan bidadari. Dia kembali bertanya pada sahabatnya.
“Hei,
gimana bidadari? Masih
parah ya ?” tanyanya dengan tersenyum.
“Eaaa,
udah gag aneh lagi kok! Sekarang keadaannya sudah mendingan .” jawab sahabatnya dengan jujur.
“Yakin
nih? Ntar
malah marah lagi nanti sama aku?”
tanyanya
sambil menggelitik sahabatnya.
“Iiih,
geli tahu…. Ya sana coba aja,
asalkan kamu bisa lemah lembut mungkin
gag papa. mungkin lho !” ucapnya sambil tersenyum.
“Ya
udah makasih ya plend !”
“Oke
! sama-sama!” jawab
si sahabat sambil melambaikan tangannya .
Selang beberapa
menit diapun menghampiri dan
bertanya kepada si bidadari, bertanya seperti biasanya.
“Permisi
! ganggu gag nih ?” ucap si pemuda sambil
berdiri di depannya.
“Gag kok …. ada apa ?” jawab
bidadari .
“Gag kok gag ada apa-apa , cuman mau ngobrol aja ma kamu .” jawabnya
penuh semangat.
“Emmb, aku baru sibuk. Besok-besok aja ya!”
ucap si bidadari sambil berjalan meninggalkannya di
kelas. Setelah
di tinggal pergi oleh si bidadari, dia
pun juga terpaksa meninggalkan kels karena tujuan nya sudah terlaksana walaupun
masih belum memuaskan hati.
Pulang
sekolah, dia mencoba
mengkoreksi semua perbuatanya dari tadi pagi sampai siang hari. Terutama saat dia
bercakap-cakap dengan bidadari, dia
bertanya-tanya “Apakah yang terjadi kepada ku
sehingga dia sama sekali tidak mau berbicara dengan ku dan berusaha untuk pergi
dari ku ? Apa
yang sebenarnya harus aku lakukan agar bisa membuat nya bisa tenang bersamaku. Jujur saja aku masih tak
ikhlas jika dia harus pergi meninggalkan ku.“ Keesokan
harinya hal yang sama terulang kembali dia
mencoba memulai bertanya dan ingin bercakap-cakap, tetapi si bidadari tetap
berusaha pergi darinya. Spontan
dia berkata dengan nada tinggi
“Aku mohon tolong jangan pergi! Ku mohon tetaplah
bersamaku !”
Tanpa
disadari teman-teman merekapun mendengar apa yang dikatakannya, si bidadari pun tetap
pergi walaupun sebenarnya dia mendengar apa yang dikatakannya karena
dia tadi berteriak . Si bidadari tetap melangkah meninggalkannya seakan-akan dia memang tak pernah saling mengenal.
***
Tetaplah Bersamaku
Pada
hari-hari yang berlalu, dia
merasa sangat kecewa dan menyesal atas apa yang dia perbuat dan atas apa yang
diperbuat bidadari kepadanya. Setiap
saat nya dia selalu teringat saat si bidadari berusaha pergi darinya dan saat itulah dia langsung muncul rasa marah
yang sangat membara dihatinya. Dia
masih belum sadar akan apa yang dia lakukan, karena masih terbakar api amarah
yang sangat membara. Setelah
beberapa jam kemarahannya, diapun
akhirnya benar-benar sadar dari semua yang dilakukannya tadi. Dia meminta maaf kepada
dirinya sendiri dan juga memohon ketabahan, kesabaran, kefahaman, dan kekuatan kepada yang maha kuasa agar dia
mampu menghadapi masalahnya tersebut .
Do’a
nya terkabul pada saat itu menjadi
seorang yang sangat kuat hatinya. Dia selalu mencoba
menahan amarahnya pada saat teringat kejadian yang bisa membuatnya marah. Selalu memahami setiap
hal-hal dan kejadian yang ada, dan tabah pada saat gelombang masalah menerpanya.
Suatu saat ada
suatu peristiwa yang benar-benar tidak bisa ditahan-tahan lagi olehnya. Dia sempat
bimbang dengan perasaan yang sedang
menyelimuti hatinya. Dia
merasa seolah-olah seperti diperebutkan oleh sisi baik dan sisi buruk pada
hatinya. Sisi
baiknya membisiki dia agar tetap tabah, sabar, dan kuat. Sisi buruknya berbisik
agar dia
membrontak dan meluapkan seluruh amarahnya Dengan kepastian hati dia berdo’a dan memohon
kepada yang maha kuasa.
”Ya Allah, aku
memeohon kepada mu berikan lah aku kemudahan untuk menghadapi masalah ini ya
Allah!” .
Do’anya kembali terkabul. Dia mendapatkan
kemudahan dalam mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan akal pikirannya
dan kepala dingin. Dia belajar
lebih dewasa untuk menghadapi hidupnya ,
walaupun terkadang sulit untuk menjaga sikap kekanak-kanakanya yang
sesaat keluar dengan sendirinya ketika dia merasa sangat kesal. Dia pernah
merasa aneh dengan sifat yang di punyainya , dia selalu bertanya-tanya dalam
hatinya . “Apakah mungkin hanya aku saja satu-satunya manusia yang selalu
merasa aneh terhadap diri sendiri ?Ah tapi tak mungkin?”
***
Kembali Dan Bahagia
Entah
apa yang terjadi setelah itu, tiba-tiba si bidadari menjadi baik kepadanya. Dengan respon yang baik dia juga
senantiasa juga berbuat baik terhadap si bidadari. Hari-hari
yang berlalu mereka pun menjalani hidup dengan suasana hati yang tenang,
tentram, dan juga nyaman. Mereka
menjalani kelanjutan hari-hari nya seakan-akan tak ada masalah di antara mereka
di hari-hari sebelumnya.
Hal-hal
positif pun semakin lama makin terjadi diantara mereka. Setiap hari yang di
jalanipun sangat enak dirasakan di hati mereka masing-masing, walaupun mereka tak bertemu satu sama
lain dalam beberapa hari.
Dia mengaku sangat
bahagia, karena pada akhirnya dia bisa merasakan hal yang selama ini dia
impikan dalam
hidupnya setelah munculnya masalah pertama dengan si bidadari. Diakuinya juga bahwa sekarang
dia juga mulai merasakan kepercayaan yang tumbuh di dalam diri dan hatinya
seperti apa yang dia inginkan saat memohon dan berdo’a. kebahagiaan
itu menular kemana-mana. Menyapa siapapun dan dimanapun.
Akhir Oktober 2011
Abdulloh